Blog Palego

Just another WordPress.com weblog

Tangkap Raja

Setelah melemparkan bola panas soal markus (makelar kasus) di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri), mantan kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji, kemarin (19/3), malah roadshow ke Palembang, Sumatera Selatan. Ia menjadi pembicara di tiga tempat berbeda, memerkenalkan buku “Bukan Testimoni Susno”.
Pagi hari, Susno menjadi pembicara utama di hadapan civitas akademika Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri). Siang meluncur ke Radio Sonora, dan sore hari berada di Toko Buku Gramedia.
Dalam setiap kesempatan, Susno melayani pertanyaan yang diajukan mengenai langkah kontroversialnya mengungkap indikasi markus tersebut. Dengan logat khas Pagaralam, Susno berbicara lantang.
Katanya, dia tidak ada motivasi lain kecuali berusaha memperbaiki moral bangsa. Menurut dia, indikasi markus kasus pajak di Polri kian kuat setelah Mabes Polri menggelar jumpa pers, Jumat (19/3) siang. Itu karena pembukaan blokir uang Rp25 miliar dilakukan saat bareskrim demisioner kepemimpinan pada 26 November 2009. Sementara SK Pencopotan Susno tertanggal 24 dan serah terima jabatan tanggal 30 pada Komjen Ito Sumardi. “Si Raja tidak lapor saya, tidak lapor Pak Ito (maksudnya, Kabareskrim Ito Sumardi DS, red). Jelas dia menelikung. Tangkap Raja, borgol dan masukkan ke sel malam ini (kemarin) juga,” tantang Susno kepada wartawan usai mengisi acara di Toko Buku Gramedia.
Sebelumnya, Susno Duadji mengungkapkan, di tubuh Polri terdapat markus dan melibatkan petinggi Polri. Tuduhan itu mengarah kepada Brigadir Jenderal Raja Erizman dan Brigjen Edmon Ilyas serta seorang perwiwa berpangkat komisaris besar dan komisaris polisi ditengarai Susno terlibat dalam kasus pencairan barang bukti senilai Rp25 miliar.
Saat bertatap muka dengan mahasiswa Polsri di aula Politeknik Unsri (Polsri) Bukit Besar, Susno didampingi Izharry Agusjaya Moenzir, penulis buku “Bukan Testioni Susno”. Satu jam ia mengulas isi materi yang tertuang dalam buku tersebut.
Nah, setengah jam sesi tanya jawab dan sesi penandatanganan sepertinya dimanfaatkan undangan mengorek alasan Susno berani seperti sekarang. “Pak Susno kenapa saat menjabat malah tidak berani teriak-teriak seperti saat ini?” tanya Budi, seorang mahasiswa.
Susno berujar, ”Saya telah berupaya untuk menuntaskan kasus tersebut dari dalam.” Bahkan, lanjutnya, setelah ia dilengserkan pun beberapa kali membicarakan kasus markus tersebut dengan pihak Mabes Polri.
“Malahan saya sudah memberitahukan kepada Kabareskrim yang baru (Ito, red) baik secara lisan maupun tertulis. Beberapa kali saya SMS tidak dijawab beliau,” katanya lagi. Nah, alasan inilah yang membuat Susno berinisiatif untuk meminta pertolongan lembaga lain yang dapat memberantas kasus tersebut yakni Satgas Mafia Hukum.
Hanya, ada beberapa pertanyaan yang tidak dapat dijawab Susno secara lugas di depan umum. Salah satunya, keterkaitan antara kasus Antasari Azhar, mantan ketua KPK dengan kasus Bank Century. “Mungkin untuk penjelasan seperti itu saya bisa menjelaskannya secara panjang lebar tetapi di tempat yang tidak terbuka seperti sekarang,” kilah Susno.
Kata Susno, dengan mengungkap kasus markus tersebut, ia kerab mendapat ancaman sms hingga upaya memidanakan dirinya. Bahkan jaringan teleponnya selalu disadap. “Pak, hati-hati nyawa taruhannya. Mobil bapak selalu diikuti,” ujar Susno menirukan ancaman yang ditujukan kepadanya.
Mengenai ancaman pidanya, Susno mendapat informasi bahwa Polri sudah membentuk tim. Ia juga tahu bahwa ada rapat-rapat yang membahas untuk mencari-cari kesalahan di tempat di mana ia pernah bertugas. “Saya dengar dari bawahan saya di Mabes yang syukur sampai kini masih loyal pada saya bahwa saat ini telah dibentuk tim untuk mengintai gerak-gerik saya. Makanya saya diminta ekstrahati-hati. Tahulah saya kalau dibentuk tim itu apa artinya,” tukas Susno dengan nada bicara tenang.
Saat sesi wawancara dengan media, Susno lagi-lagi menyebut tim yang dibentuk itu tugasnya untuk mencari-cari kesalahan dirinya. Apalagi, katanya, rapat petinggi Polri bukan membahas apa yang telah ia laporkan, melainkan membahas soal upaya mencari-cari kesalahan dirinya selama menjabat. “Saya ini bukan sekali dipecat dari jabatan, selama menjadi polisi setidaknya lima kali dipecat gara-gara saya berupaya mengungkap kebenaran. Itu telah saya alami sejak masih berpangkat perwira pertama. Jadi, kalau sekarang pun demikian tak masalah,” tegasnya lagi.
Sembari tersenyum, jenderal bintang tiga itu mengaku jengah sekaligus heran dengan respons institusi Polri yang mengaitkan pengaduannya itu dengan pelanggaran kode etik, bukan soal kasus korupsinya. Dan seolah dilihat masyarakat serius, Polri membentuk tim yang diarahkan untuk diperiksa di Propam dan Irwasum.
“Yang namanya undangan tergantung mana yang urgen, hukumnya sunat. Kalau tak dipenuhi juga tak apa,” tegas dia. “Saya tidak tahu apakah akan dibuat kesaksian palsu atau apalah. Yang jelas agar membuat saya tidak bersuara,” kata Susno lagi.
Ia minta agar Polri menuntaskan masalah pokoknya. Untuk masalah pokok kasus itu, penyidik korupsi dan suap itu adalah penyidik dari reserse atau Kejaksaan. Bisa juga dari KPK. Sekaligus menjelaskan kepada warga bahwa polisi bekerja pada alur yang benar.
Susno mengingatkan, polisi bukan milik elite polisi, melainkan milik rakyat dan rakyat menginginkan polisinya bersih. Ia tidak menginginkan jika ada orang dalam (kepolisian) yang mengungkapkan kasus di tubuh Polri, maka elite Polri akan mencari kesalahan anggotanya yang meneriakkan kasus itu.
Apa yang dinyatakannya itu, kata Susno, sesuai dengan amanat Kapolri yang mengatakan “Jangan ada pengkhianat Polri”. Yang mana pengkhianat itu adalah anggotanya yang merusak tubuh Polri itu sendiri. Seperti merekayasa kasus, berteman dengan markus, melakukan korupsi, menerima suap, tidak peka terhadap keadilan kepada masyarakat dan diperalat penguasa termasuk pengkhianat di tubuh Polri.
“Jangan hanya menangani kasus kecil saja sementara kasus-kasus besar tidak ditangani,” ujar Susno.
Sementara tekait pemanggilan Susno oleh Propam Mabes Polri Susno mengatakan bahwa tidak ada kewajiban dirinya untuk mendatangi panggilan tersebut. “Itu bukanlah pemanggilan melainkan hanya undangan. Undangan itu kan sifatnya sunat,” kata Susno yang menutup wawancara dan bergegas menunaikan ibadah salat Jumat di masjid kompleks Polsri.
Usai sesi tatap dengan mahasiswa Susno melanjutkan kegiatan bedah bukunya di Gramedia Palembang Square. Di sana, Susno kembali menegaskan sikapnya yang seolah membuka “aib” di tubuh kepolisian. Bahkan, ia mengajak 200 juta masyarakat Indonesia untuk berpikir rasional terutama pihak Bareskrim agar segera memeriksa seluruh jenderal jika terbukti korupsi. Sekaligus menjebloskannya ke tahanan. “Dengan begitu, penegak hukum ini dinilai tidak kebal hukum.”
Soal laporan pencemaran nama baik oleh salah satu jenderal yang sebelumnya ia sebut sebagai markus, Susno menyambut baik atas aduan pidana ataupun perdata terhadap dirinya. “Maka, saya meminta dia untuk flasback apakah nama baiknya tercepar atau tidakJuga pernyataan saya bohong atau tidak,” ungkapnya.
Ia mengelak kalau banyak yang orang menganggap dirinya maling teriak maling. Sebab, dia sejak dulu telah membuat sayembara terutama di Jakarta, yang berisikan bahwa barang siapa yang dapat menemukan kesalahan dirinya, akan mendapatkan seluruh gaji dan uang pesangonnya. (mg15/mg27/22)

Maret 21, 2010 Posted by | Tak Berkategori | | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.